Panggung Dangdut atau Panggung Sawer? Membaca Fenomena Gift D’Sultan dan D’Bos di Konser Kemenangan DA7
Oleh :A-R
Jum'at, 26 Desember 2025, panggung Konser Kemenangan Dangdut Akademi 7 (DA7) di Indosiar yang mempertemukan Valen asal Pamekasan dan Tasya dari Tangerang Selatan kembali menjadi pusat perhatian publik. Bukan semata karena selebrasi kemenangan dan kualitas vokal para finalis, melainkan juga karena fenomena gift atau sawer bernilai fantastis dari para pendukung kontestan.
Perlu diketahui, gift D’Sultan dan D’Bos bukanlah hadiah biasa. D’Sultan dibanderol dengan harga 5.000.000 koin, yang setara dengan sekitar Rp100.000.000. Sementara D’Bos bernilai 650.000 koin, atau setara dengan Rp10.000.000 atau lebih. mengingat 500.000 koin saja sudah setara Rp10.000.000. Angka-angka ini menjadikan sawer bukan lagi simbol spontanitas, melainkan fenomena ekonomi yang mencolok di layar kaca.
Di titik inilah publik mulai bertanya: apakah DA7 masih menjadi panggung dangdut, atau telah bergeser menjadi panggung sawer?
Tidak dapat dimungkiri, budaya sawer memiliki akar kuat dalam tradisi pertunjukan dangdut. Di hajatan rakyat, sawer adalah simbol kegembiraan, kedekatan penonton dengan penyanyi, serta bentuk apresiasi yang tulus dan spontan. Namun, ketika praktik ini berpindah ke panggung televisi nasional dengan nilai gift puluhan hingga ratusan juta rupiah lengkap dengan sorotan kamera dan narasi khusus maknanya pun berubah. Sawer tak lagi sekadar ekspresi budaya, melainkan tontonan utama.
Dalam sejumlah penampilan DA7, momen pemberian gift kerap terasa lebih dramatis dibandingkan proses musikal itu sendiri. Nama pemberi, jenis gift, nominal koin, hingga reaksi peserta dan pembawa acara dikemas sebagai bagian penting dari acara. Akibatnya, fokus publik perlahan bergeser: bukan lagi pada teknik vokal, penghayatan lagu, atau progres artistik peserta, melainkan pada siapa memberi apa dan berapa nilainya.
Di sinilah persoalan krusial muncul. Sejak awal, DA7 diposisikan sebagai ajang pencarian bakat. Ketika sawer bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah ditampilkan secara masif, muncul kesan bahwa validasi penampilan tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh kualitas, melainkan oleh besarnya atensi dan kekuatan modal. Meski secara teknis tidak memengaruhi penjurian, secara simbolik hal ini membentuk persepsi publik yang problematis.
Fenomena D’Sultan dan D’Bos juga memperlihatkan wajah lain industri hiburan modern: kapitalisasi emosi dan perhatian. Gift besar menjadi konten, viralitas menjadi tujuan, dan panggung dangdut berpotensi berubah menjadi ruang unjuk kuasa ekonomi. Ini bukan soal iri atau menafikan hak seseorang memberi hadiah, melainkan soal proporsionalitas, etika penyiaran, dan arah tontonan publik.
Namun demikian, menolak sawer sepenuhnya juga bukan solusi bijak. Dangdut lahir dari rakyat dan tumbuh bersama ekspresi spontan penontonnya. Yang dibutuhkan adalah penataan ulang. Sawer seharusnya kembali menjadi pelengkap, bukan pusat cerita. Panggung utama DA7 semestinya tetap dimiliki oleh para peserta—oleh suara, kerja keras, dan perjalanan artistik mereka.
Konser kemenangan DA7 seharusnya menjadi perayaan prestasi, bukan kompetisi nominal gift. Indosiar sebagai penyelenggara memiliki tanggung jawab untuk menjaga marwah program dengan menyeimbangkan unsur hiburan, budaya, dan nilai edukatif. Jika tidak, DA7 berisiko dikenang bukan sebagai panggung lahirnya bintang dangdut masa depan, melainkan sebagai panggung sawer yang kebetulan diiringi nyanyian.
Pada akhirnya, pertanyaan “panggung dangdut atau panggung sawer?” bukan semata ditujukan kepada penonton atau pemberi gift, melainkan kepada arah industri hiburan itu sendiri. Dangdut pantas mendapatkan panggung yang memuliakan karya, bukan sekadar angka. (Ain/Hfz)
.png)

Posting Komentar untuk "Panggung Dangdut atau Panggung Sawer? Membaca Fenomena Gift D’Sultan dan D’Bos di Konser Kemenangan DA7"
Terima Kasih